Traveling

Wisata Adventure di Taman Nasional Kutai (TNK)

Bagaimana rasanya jika anda berada disuatu tempat yang baru dan jauh dari daerah asal anda ? sebagian besar mungkin akan punya jawaban yang sama : “Penasaran nih, ada apa aja sih disini ? tempat yang bagus dimana aja ?” Dan bagi yang suka jalan-jalan, tidak butuh waktu lama untuk segera meluncur ke tempat-tempat yang happening atau objek wisata menarik.

Sayangnya ini sedikit berbeda bagi saya, karena yang namanya bersosialisasi di lingkungan baru itu butuh proses (hayo…pada mo bilang kuper kaaaann ?? hehehe…), setelah dua bulan mandi dan minum air Kalimantan, akhirnya saya berkesempatan menjejakkan kaki di salah satu paru-paru dunia, Taman Nasional Kutai.

Berawal dari ajakan mbak Mient, temen satu barak yang dengan semangat bercerita tentang lomba foto Adventure Rally Photo – Taman Nasional Kutai (TNK) tanggal 10 Januari 2010, saya langsung mengiyakan ajakan tersebut karena yang terbayang cuma jalan-jalan dan have fun nya aja. Beruntung, Tuhan berkata lain (halah….apaan sih ini???), saya disuguhi pemandangan dan pengalaman menakjubkan selama mengikuti Adventure Rally Photo – Taman Nasional Kutai (TNK)……

peta rute Adventure Rally Photo TNK
Peta rute Adventure Rally Photo TNK

Saya dan mbak Mient berangkat bersama teman-teman pukul 06.30 WITA dari Wisma Rayah (Senior Camp) Sangatta. TNK berada berada di wilayah Kabupaten Kutai Timur dan sebagian kecil wilayah Kota Bontang yang memiliki lahan total seluas 198.629 ha, terdapat 3 lokasi trekking yaitu Pre Fab Mentoko, Teluk Kaba dan Sangkima. Untuk mencapai pos Sangkima, bisa ditempuh dalam waktu 30 menit dari Sangatta melalui perjalanan darat.

25334_1411302560943_3385211_n
Di dekat gerbang pos Sangkima, terdapat 3 Guest House dan 1 pendopo yang dapat digunakan oleh pengunjung. Kurang lebih 1 Km pertama, jalan masuk kedalam hutan TNK dibangun menggunakan susunan kayu Ulin (Boardwalk). Saya takjub dengan pemandangan di kiri dan kanan jalan, ada banyak sekali pohon-pohon besar, tanaman yang merambat, tak ketinggalan juga fauna unik yang beberapa diantaranya belum teridentifikasi. Ups…jangan khawatir, kalo anda baru pertama kali datang kesini atau malas untuk buka-buka kamus biologi (ngapain trekking pake bawa kamus segala ???), di beberapa titik terdapat papan yang berisi informasi mengenai tanaman khas TNK.
20370_1333387293110_986535_n
Disepanjang rute perjalanan kami, terdapat beberapa jembatan yang harus dilalui. Yang pertama adalah jembatan gantung. Di jembatan yang melintasi sungai Sangatta ini, anda masih bisa berjalan cepat atau berlari (dengan catatan berat badan anda tidak lebih dari 25 kg hehehe…) karena susunan kayunya rapat dan cukup lebar sehingga tidak perlu cemas jika anda berdiri terlalu ke tepi dan jembatannya terbalik, kecuali anda sedang sial…
20370_1333380212933_1417574_n
Melewati jembatan gantung, flora dan fauna yang kami temui semakin beranekaragam, mulai dari pohon yang meliuk-liuk dan berduri, akar pohon besar, pohon besar yang saking tingginya, sampai tidak kelihatan puncak pohonnya, serta serangga unik, yang jika disentuh akan melindungi dirinya dengan berubah bentuk seperti bola.
20370_1333380012928_3245759_n
Melanjutkan perjalanan, akhirnya kami sampai di Ulin raksasa, yang konon usianya telah mencapai 1000 tahun. Saking besarnya, diameter Ulin ini hampir sama dengan tinggi badan Yao Ming (emang siapa ini ???), 2.5 meter, dan tinggi kira-kira 45 meter. Ulin ini merupakan salah satu pohon terbesar dan tertinggi di Indonesia.

Ulin Raksasa
Ulin Raksasa

Posisinya yang terpisah dari pohon-pohon disekitarnya, membuat Ulin ini benar-benar mencuri perhatian, sehingga tak heran jika sudah sampai disini, pengunjung akan betah berlama-lama berada di sekitar Ulin raksasa, entah untuk berfoto ataupun sekedar berjalan mengelilingi Ulin sambil berdecak kagum. Malah ada yang doyan banget meluk Ulin ampe dicium segala, mungkin dikira Hajar Aswad kali hehehe

Ulin adalah salah satu pohon yang terkenal dari hutan Kalimantan dengan ciri kayunya keras dan kuat, warna gelap, dan tahan terhadap air laut. Banyak bangunan rumah di daerah Kalimantan Timur menggunakan kayu Ulin. Jika anda sempat jalan-jalan ke Sangatta, anda akan terbiasa melihat rumah di tepi jalan atau komplek perumahan menggunakan konstruksi dari kayu Ulin. Kayu Ulin memang terkenal kuat terlebih bila kena air. Sangat disayangkan jika populasi pohon yang bernama latin eusideroxylon zwageri semakin berkurang akibat ulah perambah liar dan ilegal logging.

Jembatan Lote
Jembatan Lote

Medan perjalanan kami selanjutnya tidak kalah menarik. Jalanan yang turun – naik serta licin, membuat sisi adventure dari lomba ini semakin terasa. Jembatan kedua yang kami temui adalah jembatan Lote. Sejatinya, yang namanya jembatan itu ya diatas sungai atau daratan, tapi tidak untuk jembatan yang satu ini. Konon kabarnya, karena beberapa hari sebelumnya ada pohon besar yang desperate, sudah tidak sanggup lagi menanggung beban hidup (daripada di senso ama penebang liar, lebih baik merubuhkan diri…kira-kira begitulah kata sang pohon..), jembatan ini amblas ke dalam sungai akibat tertimpa pohon yang rubuh.

Walaupun arus sungai tidak begitu deras, namun demi keselamatan kami diarahkan oleh panitia untuk membuka sepatu agar tidak terpeleset saat meniti jembatan, serta berjalan hanya 2 orang saja pada saat bersamaan, jika salah satu ada yang terpeleset atau hanyut, yang satu lagi bisa membantu, atau hanyut dua-duanya hehehe….

Jembatan Sholin
Jembatan Sholin

Jembatan ketiga adalah jembatan Sholin. Strukturnya mirip dengan jembatan Lote, yaitu kayu Ulin sebanyak 17 batang yang disusun dengan jarak sekitar setengah meter. Jika anda menyangsikan jumlah kayu penyusun jembatan ini, datang dan hitunglah sendiri.

Bagi saya, medan terberat selama adventure ini adalah setelah jembatan Sholin, karena jalan yang menanjak dengan kemiringan kira-kira 45 derajat (tolong dicatat, ini hanya perkiraan karena saya sendiri tidak membawa alat ukur apapun untuk memastikannya). Tanpa bermaksud untuk mendramatisir, selama rute tanjakan ini, saya lebih banyak merangkak daripada berjalan, karena takut terpeleset. Memilih jalan yang agak ke tepi juga bisa menjadi pilihan agar tidak mudah terpeleset karena bisa berpegangan pada akar dan ranting pohon. Namun pilihan terbaik jatuh pada penggunaan sepatu anti-slip atau safety shoes, dan jangan lupa bawa air minum karena disini akan menguras keringat cukup banyak sehingga anda tidak saja ngos-ngosan tapi juga haus beraaaatt!

20370_1333380252934_2909951_n
Jembatan Sling I

Jika selama ini saya melihat tantangan berjalan diatas sling hanya di Fear Factor, The Amazing Race ataupun pertunjukan sirkus, kali ini saya benar-benar harus melewati tantangan tersebut. Yup, jembatan keempat yang kami temui adalah jembatan Sling I. Berdasarkan informasi dari panitia, jembatan ini masih aman untuk digunakan karena sling nya terbuat dari baja yang tangguh.

Langkah-langkah awal masih biasa saja, semakin ke tengah jembatan, nyali saya makin ciut, bukan saja karena takut ketinggian, tapi juga harus konsentrasi mengatur langkah dan menjaga keseimbangan. Disarankan berjalan diatas jembatan ini dengan langkah tenang seperti seorang ballerina, tangan berpegangan pada kedua bahu jembatan, dan posisi telapak kaki miring sekitar 45 derajat terhadap sling bawah/sling horizontal. Ini akan meminimalisir kemungkinan anda untuk terpeleset. Jika anda berjalan terburu-buru, bisa menyebabkan jembatan sling ini bergerak ke atas-bawah dan ke kiri-kanan, yang tidak hanya berakibat anda terpeleset tapi juga terjatuh karena jembatannya miring atau malah terbalik.

Tidak jauh dari jembatan Sling I, kami sampai di sebuah aliran air gunung yang dikenal dengan nama Air Terjun 7 Putri. Walaupun disini tidak ditemui adanya aliran air deras yang jatuh dari ketinggian seperti layaknya air terjun, tapi lokasi ini cukup menarik untuk difoto dan tempat beristirahat sejenak menikmati gemericik air. Tapi jangan berharap bisa bertemu dengan 7 Putri yang sedang mandi dan mencuci disini, sebab 7 Putri tersebut sudah punya kamar mandi pakai shower air panas-dingin dan mesin cuci, jadi mereka udah gak gaul di air terjun getho…..

Jika anda pernah melihat langsung Orangutan di kebun binatang Ragunan, cobalah gunakan kesempatan anda disini untuk bertemu Orangutan di habitat aslinya, sebab TNK merupakan salah satu habitat asli Orangutan. Dalam perjalanan kami dari Air Terjun 7 Putri menuju pemberhentian berikutnya, tanpa sengaja kami melihat seekor Orangutan yang sedang memetik makanannya sambil berpindah-pindah dari pohon ke pohon. Orangutan merupakan mamalia pendaki pohon terbesar, yang bergerak dari satu pohon ke pohon lain dan enggan menginjak tanah. Ini sesuai dengan ciri fisik yang dimilikinya yaitu lengan dan tangan yang sangat kuat, sedangkan kakinya relatif pendek dan lemah. Apabila sedang menginjak tanah, orangutan bergerak dengan tangan yang mengepal di tanah.

Rumah Pohon
Rumah Pohon

Jika anda mengajak anak-anak untuk berwisata adventure di TNK, pemberhentian berikut ini bisa jadi salah satu tempat favorit mereka. Yup, rumah pohon. Dengan menaiki rumah pohon sampai ke puncaknya, pemandangan indah TNK lebih bisa dilihat dari banyak angle atau sudut pandang. Jika lokasi ini lebih dikembangkan lagi dengan menambahkan beberapa rumah pohon dan fasilitas flying fox, tentunya akan lebih menarik lagi.

Tanpa terasa perjalanan kami sudah hampir mencapai finish. Jembatan terakhir yang harus dilalui adalah Jembatan Sling II. Konstruksinya mirip dengan Jembatan Sling I, hanya jarak antar sling samping lebih rapat dan bahu jembatan tidak terlalu lebar sehingga anak usia 8 atau 9 tahun pun bisa mencoba melintasi jembatan ini sendiri.

Jembatan Sling II
Jembatan Sling II

Penjelajahan saya didalam hutan TNK ini, kembali mengingatkan pengalaman masa kecil saya yang sempat saya lalui di kampung halaman, di Tarempa, kabupaten Anambas, Kepulauan Riau. Saya sering diajak oleh Aki (kakek) naik gunung karena beliau punya kebun buah-buahan dan sayuran disana. Selama perjalanan sekitar 2 jam menuju kebun, saya sudah terbiasa mendengar suara gergaji senso, pertanda ada yang sedang menebang pohon untuk membangun rumah dan kayu bakar, bahkan ada yang kayunya untuk dijual. Saat itu saya belum mengerti bahwa penebangan hutan secara liar berakibat pada ketidakseimbangan ekosistem, yang saya alami saat itu, sering sekali binatang hutan seperti tupai, kelelawar, babi hutan, anjing hutan dan ular merusak kebun dan ternak kami. Ternyata ini merupakan reaksi dari rusaknya habitat dan sumber kehidupan binatang-binatang tersebut.

Reaksi yang sama mungkin juga akan terjadi disini jika hutan terus-menerus dirambah. Apalagi harga kayu Ulin yang mencapai jutaan rupiah per meter kubik membuat orang gelap mata demi pundi-pundi rupiahnya, tanpa memikirkan akibat kepunahan flora dan faunanya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s