Traveling

Madinah Al Munawarah

Kamis, 8 Maret 2012 
Perjalanan Doha – Jeddah ditempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam aja. Saat turun dari pesawat dan memasuki bandara King Abdul Aziz, kami tidak menyangka bahwa pemeriksaan di bandara ini akan jauh lebih ketat daripada bandara NDIA, sehingga sempet kaget juga saat di pintu keluar setelah imigrasi, semua passport jamaah kami diambil dan dibawa oleh dua orang petugas bandara. Untungnya perwakilan Mihrab Qolbi yang di Jeddah udah menunggu kami diluar sehingga beliau yang langsung berhubungan dengan petugas bandara tersebut. Sekitar 2 jam kami menunggu di bandara, hingga semua passport kami bisa release dan kami pun segera menuju bis yang akan membawa kami ke Madinah.

Oia, pas nunggu urusan passport tadi, ga sengaja saya lihat sepasang suami istri serta seorang balita muslim Nigeria sedang jalan di depan kami. Saya lambaikan tangan ke arah balita itu, eh ternyata balitanya bales lambaian tangan saya sambil berlari ke arah saya dan huuupp! begitu nyampe dia langsung memeluk saya….hoooo….co cwiiiit 😀 Jadi deh balita ini jadi sasaran peluk dan cium kami, ga lupa foto-foto dunks hehehe….untung emak-bapaknya kagak marah, cuman nungguin dari jauh….

Perjalanan darat Jeddah – Madinah ditempuh dalam waktu kurang lebih 6 jam. Saat bis mulai memasuki kota Madinah, jamaah dibangunkan oleh ustadz agar bersama-sama membaca doa memasuki kota Madinah.

Ya Allah,
negeri ini adalah tanah haram RasulMU Muhammad SAW,
maka jadikanlah penjaga bagiku dari neraka,
aman dari siksa dan buruknya hisab
[Doa masuk kota Madinah]

Perasaan pertama yang hinggap dalam qolbu saya adalah tenang dan damai….Sepanjang perjalanan dari batas kota Madinah tadi hingga sampai di hotel, ustadz Wahidin mengajak semua jamaah untuk berdoa dan bersholawat kepada Rasulullah saw. Bibir saya pelan mengikuti doa dan sholawat yang dibimbing oleh ustadz, qolbu saya pasrah dalam ketenangan dan kedamaian yang luar biasa. Tiap orang punya caranya sendiri menikmati saat-saat itu, bahkan seorang ibu yang duduk didepan saya sampai nangis sesenggukan dan agak histeris sih menurut saya, tapi yaah…mungkin itulah gejolak qolbu yang beliau rasakan saat itu…..

Bis bergerak semakin dekat dengan hotel, ustadz menunjukkan menara masjid yang kami lihat terang benderang itulah menara masjid Nabawi, subhanallah….Di salah satu bagian masjid Nabawi terletak Raudhah, salah satu tempat yang mustajab untuk berdoa, lanjut ustadz. Tiba-tiba Ike yang duduk disebelah saya bertanya, apa itu Raudhah? Saat saya akan menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba tenggorokan saya tercekat, saya tidak mampu mengeluarkan suara walaupun bibir saya berusaha bergerak mengucapkan sesuatu, mata saya panas oleh bulir-bulir airmata dan dada saya bergetar. Ike bingung melihat saya yang tiba-tiba menangis. Saya berusaha sekuat tenaga menahan diri saya agar tidak histeris, walopun badan saya udah menggigil menahan rasa haru yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Saya nikmati saja bulir-bulir airmata yang mengalir sambil melihat ke arah luar jendela, dalam hati saya terus bersholawat sambil menenangkan diri.

Jum’at, 9 Maret 2012 
Jam 00.15 kami tiba di tempat kami menginap selama di Madinah, Al Eiman Taibah hotel. Setelah pembagian kamar dan pengumuman singkat dari ustadz mengenai jadwal kegiatan esok hari, semua jamaah langsung menuju kamar untuk istirahat. Jam 3.30 kami berkumpul kembali, kemudian bersama ustadz Wahidin dan ustadz Bahrein (ini sih ngakunya bukan ustadz, hanya muthawwif aja krn beliau mahasiswa Indonesia yang masih menimba ilmu di tanah Arab hehehe…), kami berjalan dari hotel menuju masjid Nabawi. Sebelum berangkat, ustadz memberikan sedikit pengarahan mengenai rute dari hotel ke masjid Nabawi dan menganjurkan agar tidak bawa kamera atau ponsel berkamera, karena pemeriksaan oleh askar di pintu masuk masjid cukup ketat, terutama di pintu masuk jamaah wanita. Sebenernya sih bisa aja klo mo akal-akalan ama askar, kamera ato ponsel berkamera dimasukin dalam kaos kaki, tapi karena emang niat di Madinah dan Makkah hanya fokus ibadah aja, saya ga berani mencoba trik itu hehehe….

Hanya berjalan kaki kurang lebih 5 menit aja, kami sampai di halaman masjid Nabawi, subhanallah….indah, bersih dan tenang sekali suasananya….By the way, ada yang tau ga artinya Madinah Al-Munawarah itu? Yuuup….betuuul…artinya Madinah yang Bersinar ^_^ Karena saya ga sempet foto masjid Nabawi dari angle yang bagus, ini saya share fotonya yang saya copas dari mbah google ;p

Kami masuk melalui gerbang halaman belakang masjid yang paling dekat dengan hotel Movenpick, kemudian berjalan ke sisi paling kanan belakang masjid, yaitu pintu Umar bin Khattab yang merupakan salah satu pintu masuk khusus bagi wanita dan anak-anak. Saat kami berjalan dari gerbang halaman masjid menuju ke pintu masuk masjid, payung-payung raksasa di halaman masjid pelan-pelan mengembang dan terbuka. Subhanallah…..indah sekali, seperti hendak menyambut kedatangan kami hehehehe….ge-er 😀

Ternyata benar, pemeriksaan askar wanita cukup ketat, tas kami dibuka dan dirogoh ampe kedalam, termasuk tas sepatu. Sempet kaget juga karena askarnya bisa beberapa kata bahasa Indonesia, dengan nada tinggi askarnya berkata,”buka Ibu…buka…periksa…periksa….!” Oooh…maksudnya dia meminta kami yang berwajah melayu ini agar membuka tas untuk pemeriksaan hehehe….Kami sengaja mengambil shaf belakang agar lebih dekat pintu keluar. Mungkin juga karena baru pertama kali masuk masjid Nabawi, rasanya masih canggung dan takjub dengan keindahan masjid ini. Tiap pintu dihiasi dengan kuningan, juga rak Al-Quran yang tersusun dan diatur rapi didalam masjid terbuat dari kuningan, dibagian bawah tiap pilar masjid dikelilingi oleh lubang bersekat yang berfungsi menyalurkan pendingin udara kedalam masjid. Disekeliling shaf sholat berbaris rapi tong dispenser air zam-zam, bisa diminum ditempat ato diisi dalam botol minum yang kita bawa.

Di masjid Nabawi, adzan subuh dikumandangkan dua kali, adzan yang pertama kira-kira satu jam sebelum waktu subuh. Setiap selesai sholat fardhu, selalu ada sholat sunah jenazah, sebagaimana juga di Masjidil Haram. Karena keutamaan sholat di masjid Nabawi ini, dianjurkan untuk memperbanyak sholat disini, termasuk sholat sunnah.
“Shalat di masjidku ini [Masjid Nabawi] lebih utama 1.000 kali dibanding shalat di masjid lainnya kecuali di Masjidil Haram dan shalat di Masjidil Haram lebih utama 100.000 kali shalat daripada masjid lainnya.” [HR Ahmad Ibnu Huzaimah dan Hakim].

Dari berbagai sumber, saya coba sharing denah dan referensi mengenai masjid Nabawi nih:

garis putus-putus warna kuning adalah area Raudhah dan sekitarnya

Keterangan :

A. dari arah Bab As-Salam (Gate #1)
B. Mihrab Hanafi
C. Mimbar Rasulullah
D. Tempat Bilal / Muazzin
E. Mihrab Nabawi / Mihrab Rasulullah
F. Mihrab Utsmani
G. Batas Rumah Rasulullah
H. Ruang Aishah RA / Ruang Makam
I. Ruang Fatimah RA
J. Panggung di sekitar Mihrab Tahajjud
K1. Tempat Ahl Suffah sebelum perluasan 7 H
K2. Tempat Ahl Suffah setelah perluasan 7 H
K3. Panggung Tempat Petugas Keamanan / Sebagian menganggap ini tempat Ahl Suffah
L. Bab An-Nisa
M. Bab Jibril
N. Bab Baqi(Gate #41)
P. Bab Al Rahmah
Q. Bab Abu Bakar Siddiq

1. Makam Rasulullah SAW
2. Makam Abu Bakr RA
3. Makam Umar Ibn Al-Khattab RA
4. Tempat kedatangan malaikat Jibril ketika menyampaikan wahyu kepada Rasulullah SAW
5. Dinding Ruang Makam / Kamar Aishah RA
6. Dinding makam segilima, dibangun Umar Ibn Abd Aziz
7. Dinding makam segilima lapis ke dua, dibangun Sultan Qait Bay dari Mesir
8. Kubah kecil tepat di atas ruang makam
9. Lingkaran kubah Al Zarqa
10. Lingkaran kubah Al Khadra(Kubah Hijau)
11. Lubang besar searah makam Rasulullah SAW
12. Lubang kecil searah makam Abu Bakr RA
13. Lubang kecil searah makam Umar Ibn Al-Khattab RA
14. Raised platform untuk petugas / askar (data gak akurat berdasarkan ingetan aja)
15. Tiang As-Sarir (tempat tidur)
16. Tiang Al-Hirs (pengawal)
17. Tiang Al-Wufud (utusan)
18. Mihrab di Ruang Fatimah RA, dibangun Sultan Qait Bay dari Mesir
19. Mihrab Tahajjud
20. Mihrab tempat Rasulullah SAW shalat berjamaah dengan Ahl Suffah
99. Garis pembatas jemaah wanita pada saat sebagian raudhah khusus untuk jemaah wanita

Raudhah 
Agenda hari ini adalah ziarah Raudhah dan makam Baqi. Raudhah dianggap sebagai taman-taman surga, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah. Rasulullah bersabda, “Di antara rumah dan mimbarku adalah taman dari taman-taman surga, dan mimbarku di atas telagaku”. Para ahli hadits menafsirkan taman surga  sebagai tempat Allah SWT menurunkan rahmat dan kebahagian-Nya karena dilakukan zikir serta pemujaan kepada Allah.

Setelah sarapan, kami jamaah wanita segera berkumpul bersama ibu Syam, muthawwif yang akan memandu kami ke Raudhah. Karena ini adalah hari Jum’at, maka batas waktu untuk jamaah wanita lebih sempit. Jam 7.30 kami masuk melalui Bab Ustman bin Affan sambil membaca sholawat dan doa,”Ya Allah, berikanlah kepadaku rahmat dari sisi-Mu”, seperti yang diajarkan oleh muthawwif. Kami masuk hingga shaf terdepan, kemudian sholat sunah tahiyatul masjid dan sholat dhuha. Tidak lama setelah kami sampai di shaf terdepan ini, dibelakang kami askar sudah menutup akses masuk Raudhah. Kami duduk menunggu disini sambil mendengarkan penjelasan dari muthawwif. Berdoalah dari hati, pake bahasa apa aja Allah ngerti kok, yang penting minta 4 hal: dibebaskan dari azab kubur, dibebaskan dari api neraka, dijauhkan dari fitnah hidup dan fitnah mati, dijauhkan dari fitnah dajjal; demikian muthawwif membagikan sedikit tips berdoa di Raudhah.

Pelan-pelan jamaah kami mulai bergeser mendekati Raudhah dan bergabung dengan jamaah melayu lainnya, menunggu giliran dipanggil oleh askar. Untuk menjaga ketertiban masuk ke dalam Raudhah, askar membagi kelompok-kelompok berdasarkan suku bangsa. Tujuannya agar tidak ada yang terdzalimi saat desakan-desakan masuk ke Raudhah. Bayangin aja klo bangsa melayu yang badannya kecil-kecil mesti sikut-sikutan ama bangsa arab yang badannya besar. Jika ada jamaah yang ga sabaran pengen cepet-cepet masuk, askar langsung berteriak,”duduk ibu…duduk…!!” Muthawwif kami pun berulang kami mengingatkan untuk bersabar, pasti dapat gilirannya, dan yang penting jangan lengah, kadang jamaah dari bangsa lain suka menyusup seenaknya kedalam kelompok bangsa melayu. “Assalammu’alaika Ya Rasulullah, Assalamu’alaika Ya Nabiyullah, Assalammu’alaika Ya Habibullah; Assalammu’alaika Ya Abu Bakar Shiddiq; Assalammu’alaika Ya Umar bin Khattab”, itu adalah ucapan salam yang diajarkan oleh muthawwif saat kami mulai mendekati Raudhah dan makam Rasulullah serta dua dari empat Khulafaur Rasyidin ini. Hati saya semakin bergetar, ga mampu menahan tangis saat mengucapkan salam tersebut. Rindu…rindu…rindu kami padamu Ya Rasulullah…..

Sekitar jam 10 pagi kelompok bangsa melayu mulai dipanggil masuk menuju Raudhah. Ga sabar rasanya ingin menginjakkan kaki dan menumpahkan segala doa di Raudhah. Saat memasuki bangunan masjid Nabawi yang asli (sebelum perluasan), saya mencium bau wangiiii sekali….subhanallah….Semakin kedalam, jamaah semakin berdesak-desakan. Tiba-tiba ada askar yang berteriak dekat kami,”Raudhah sana ibu….sana…sana Raudhah” sambil mengarahkan tangannya ke sisi kanan depan kami. Saya menarik tangan Ike, bergerak ke kanan depan mengikuti arahan sang askar. Dan begitu melihat kebawah, ternyata kaki kami sudah berada diatas karpet hijau, inilah Raudhah! Allahu Akbar! Begitu melihat ada tempat kosong di shaf depan karpet hijau ini, saya menarik tangan Ike untuk pindah ke shaf depan, sebab kata muthawwif jika sholat dan berdoa di shaf belakang lebih cepat diusir oleh askar. Jika ingin berlama-lama, pilihlah shaf terdepan. “Keluar ibu…keluar! sana keluar ibu!”, demikian teriakan askar yang mengusir jamaah yang udah selesai sholat di tapi masih terlihat duduk di karpet hijau. Alhamdulillah saya bisa menunaikan sholat sunah sebanyak 4 rakaat disini, menumpahkan segenap doa dalam sujud-sujud terakhir saya, hingga setelah selesai sholat pun badan saya masih menggigil karena rasa haru yang tak terperi. Sambil berjalan keluar saya coba untuk menenangkan diri, saya minum air mineral dari Jeddah yang saya bawa dalam tas, sempat hampir tersedak, karena bingung, kenapa rasanya seperti air zam-zam? padahal saya belum menambahkan air zam-zam kedalam botol ini? Wallahu’alam bishawab….

Makam Baqi

Selesai dari Raudhah, jam udah menunjukkan pukul 11 siang. Karena terbatasnya waktu, jamaah wanita tidak sempat untuk ziarah ke makam Baqi. Baqi sebenarnya berarti sebidang tanah lembut tanpa batu dan kerikil. Tanah semacam ini paling baik untuk lokasi kuburan yaitu jenis tanah yang jarang terdapat di Madinah. Maka dari zaman dahulu penduduk Madinah memanfaatkan Baqi sebagai tempat pemakaman umum.

courtesy of http://triedpie.wordpress.com

Baqi terletak ditengah-tengah kota Madinah yang sekarang memiliki luas kurang lebih 138.000 meter persegi. Di perkuburan, yang dibatasi pagar tembok yang beruji ini, terdapat makam lebih dari 10.000 sahabat Nabi termasuk Usman Bin Affan (Khalifah III), Abbas bin Abdullah (paman Nabi) dan Hasan bin Ali (cucu Nabi). Juga Halimatus Sa’diyah (Ibu susuan Rasullah), putra-putri dan semua isteri Beliau, kecuali Siti Khadijah di Ma’la dan Maimunah di daerah Zam’un.

Sekarang ini, siapapun yang meninggal di Madinah boleh dimakamkan di sini termasuk Jama’ah Umroh dan Haji dari seluruh pelosok dunia. Keistimewaan tempat pemakaman ini adalah Nabi pernah berdo’a agar semua yang dimakamkan di sini diampuni dosanya oleh Allah.

Sholat Jum’at di Masjid Nabawi
Sholat Jumat bagi wanita di Indonesia emang ga lazim, tapi berbeda dengan tanah suci ini. Jamaah wanita boleh ikut sholat Jumat didalam masjid, niatnya bukan fardhu ataupun sunah, tapi sholat sebagaimana imam/mengikuti imam.

Setelah keluar dari Raudhah, kami masuk kembali kedalam masjid, dibagian shaf jamaah wanita. Walopun ga ngerti isi khutbah Jumat yang disampaikan dalam bahasa arab itu, tapi tetep aja saya terharu, saat sang khotib membaca beberapa petikan ayat Al Quran sambil tersedu-sedu suaranya menahan tangis. Ya Allah, sungguh berbahagia orang-orang yang hatinya selalu tunduk pada-Mu….

Setiap selesai waktu sholat, diluar pagar halaman masjid Nabawi selalu banyak pedagang yang menggelar dagangannya, mulai dari yang beralaskan kain ampe yang pake gerobak. Dagangannya macem-macem, mulai dari jilbab, pakaian, pasmina, tas, minyak wangi, tasbih, dll. “Lima riyal…lima riyal!! Khamsa riyal…khamsa riyal!!” itulah teriakan khas para pedagang tersebut. Tapi ada satu yang paling menarik hati saya, setiap berangkat dan pulang sholat yaitu penjual siwak yang berjualan disamping luar pintu masuk halaman masjid. Seorang bapak tua dan dua orang anak perempuannya yang mungkin baru berusia 10 tahun. Menyesal sekali saya belum sempat membeli siwak disitu ampe hari terakhir saya di Madinah…..Ya Allah, berikanlah kepada mereka, rahmat dari sisi-Mu….

Sabtu, 10 Maret 2012
Agenda hari ini adalah ziarah kota Madinah, yaitu masjid Quba, kebun kurma, Jabal Uhud, Masjid Qiblatain, masjid Khandaq.

foto satelit kota Madinah, courtesy of mbah google
Masjid Quba
Terletak di daerah Quba, sekitar 5 km sebelah selatan Madinah. Waktu Nabi Saw berhijrah ke Madinah, orang pertama yang menyongsong kedatangan Rasulullah adalah orang-orang Quba. Di sini Nabi Saw menempati rumah Kalsum bin Hadam, kemudian Rasulullah saw pun mendirikan masjid di atas sebidang tanah milik Kalsum. Di masjid ini lah yang pertama kali diadakan shalat berjemaah secara terang-terangan.
Masjid Quba adalah masjid yang pertama kali didirikan oleh Rasulullah Salallahu alaihissalaam setelah beliau berhijrah ke Madinah. Lalu setiap Sabtu, beliau mendatangi masjid ini dengan berjalan kaki atau menunggang unta. Bila kita datang ke masjid Quba lalu sholat sunnah 2 rakaat, apa saja, dikatakan pahalanya sama dengan pahala orang yang berumroh (Hadits Al Tarmidhi).

Kami sempatkan untuk turun dan sholat sunah di masjid Quba. Susah payah kami berusaha masuk ke pintu masjid yang khusus wanita, karena dari arah berlawanan juga banyak jamaah yang berusaha keluar dari pintu masjid. Karena lantai 1 udah penuh sesak jamaah yang sholat, akhirnya kami naik ke lantai 2, ternyata masih banyak shaf kosong sehingga kami bisa sholat dengan leluasa. Setelah selesai sholat, kami turun dan menuju pintu yang sama untuk keluar melalui jalan yang sama saat kami masuk tadi. Desakan-desakan dari arah berlawanan terjadi lagi seperti saat masuk tadi, tapi kali ini lebih menakutkan. Kami yang badannya kecil-kecil tidak hanya terdorong ampe ke tembok masjid, tapi juga ampe tergencet dan sesak napas, bahkan salah seorang bude dari Surabaya ampe jatuh terduduk diantara kerumunan manusia yang saling dorong-dorongan itu. Berkat pertolongan Allah, sang bude berhasil diangkat oleh seorang ibu dari Malaysia yang berdiri di dekat bude. Tangan saya langsung menggapai bude untuk membantunya berdiri, karena saat yang bersamaan juga badan saya terdorong ke tembok dan dihimpit oleh jamaah bangsa lain yang badannya besar-besar. Sekitar 15 menit kami berjuang untuk keluar dari kerumunan manusia yang saling dorong-dorongan itu.

Setelah berhasil keluar, kami saling mengecek kondisi diri sendiri dan jamaah wanita yang lain. Ternyata ibu mba Yulia ampe shock karena kejadian dorong-dorongan tersebut. Banyak dari kami yang kehilangan sandal, bahkan bu Nunuk, karena melindungi kedua anaknya dari himpitan manusia tadi, tidak sadar klo dompet dalam tasnya raib. Innalillaahi wa innailaihi raajiun…

Pelajaran dari kejadian tersebut adalah, selalu berhati-hati saat kondisi ramai atau desakan-desakan, selalu posisikan tas di bagian depan badan kita, jangan bawa semua uang dan dompet saat bepergian, perhatikan tanda atau penunjuk arah masuk dan keluar masjid/tempat yang kita kunjungi, dan yang paling penting, apapun kejadiannya, selalu kembalikan semua urusan pada Allah dan pasrah…..laa hawla walaa quwwata illaa billaahi….

Kebun Kurma
Kami mampir disini hampir setengah jam. Begitu turun bis, saya ngikut aja jamaah yang lain masuk ke dalam toko kurma. Saking asyiknya lihat-lihat berbagai macam jenis kurma yang dijual, ampe ga terasa waktunya udah habis, jadi ga keburu dech lihat kebun kurma yang berada dibelakang tokonya hiks ;-(

Masjid Qiblatain

Masjid tersebut mula-mula dikenal dengan nama masjid Bani Salamah karena dibangun di atas bekas rumah Bani Salamah. Pada tahun ke 2 H waktu Zhuhur di masjid tersebut tiba-tiba turunlah wahyu surat Al-Baqarah ayat 144. Dalam shalat tersebut mula-mula Rasulullah Saw menghadap ke arah Masjidil Aqsa, tetapi setelah turun ayat tersebut, beliau menghentikan sementara, kemudian meneruskan shalat dengan memindahkan arah kiblat menghadap ke Masjidil Haram. Dengan terjadinya peristiwa tersebut akhirnya masjid ini diberi nama masjid Qiblatain yang berarti masjid berkiblat dua.

Masjid Khandaq
Khandaq berarti parit. Dalam sejarah Islam yang dimaksud Khandaq adalah peristiwa penggalian parit pertahanan sehubungan dengan peristiwa pengepungan kota Madinah oleh kafir Quraisy bersama sekutu-sekutunya. Peninggalan Perang Khandaq yang ada hanyalah berupa lima buah pos penjagaan pada peristiwa Khandak yang sekarang dikenal dengan nama Masjid Sab’ah atau Masjid Khamsah.
Jabal Uhud
Jabal Uhud adalah nama sebuah bukit terbesar di Madinah. Letaknya sekitar 5km di sebelah utara pusat kota Madinah. Di lembah bukit ini pernah terjadi perang dahsyat antara kaum Muslimin sebanyak 700 orang melawan kaum musyrikin Mekah sebanyak 3.000 orang yang dinamakan Perang Uhud. Para syuhada yang tewas di Uhud dimakamkan di tempat tersebut di pemakaman yang dikelilingi tembok.
Jabal Uhud nun di depan sana
foto bareng di depan makam syuhada Uhud
foto bersama keluarga Surabaya….hadeeuuh…Dimas motret apa siyy??
foto bareng ustadz…weeek ;p
bukit Ainain, tempat bersembunyi pasukan pemanah muslim perang Uhud
Jamaah tiba kembali di hotel untuk selanjutnya melaksanakan sholat dhuhur. Ba’da ashar, jamaah berkumpul kembali untuk taushiyah dan pemantapan manasik umroh.

Minggu, 11 Maret 2012
Hari ini adalah terakhir kami berada di Madinah. Berat rasanya meninggalkan kota yang tenang dan damai seperti ini. Sholat subuh terakhir disini, saya beranikan diri membawa ponsel kamera, saya simpan dalam saku celana dibalik mukena saya.

saat payung-payung raksasa mulai terbuka
women’s prayer area, Bab Umar bin Khattab

Emang wajah saya ga berbakat untuk jadi tukang bo’ong yah ;p pas mo masuk pintu masjid, tumben-tumbennya askar yang biasanya cuman merogoh tas, pas yang ini kok ya ampe menggerayangi saku celana saya, begitu dia menyentuh saku celana tempat saya menyimpan ponsel, dengan bahasa tangan sang askar langsung menyuruh saya mundur, menunjuk ke arah tempat penitipan barang. Saya sempet gemeteran saat ketahuan itu, tapi tetep ga kekurangan akal. Ponsel saya simpan di dalam baju bagian perut, trus saya coba masuk lewat pintu disebelahnya. Syukurnya askar di pintu hanya memeriksa tas aja, jadi saya aman masuk ke dalam masjid, pfiiuuuuh…..lega…. 😀

Jam 6 pagi jamaah berkumpul di halaman masjid untuk ziarah perpisahan dengan Nabawi. Kami diajak keliling masjid sambil mendengarkan penjelasan ustadz sekaligus bersholawat.

di depan bangunan asli masjid Nabawi, dibawah kubah hijau itulah terletak makam Rasulullah saw

Jam 9 pagi semua koper sudah dikeluarkan dari kamar, persiapan check out dari hotel. Sebelum sholat dhuhur semua jamaah sudah mandi sunah ihrom. Saat menaiki bis menuju Makkah, semua jamaah sudah berpakaian ihrom. Jam 3 sore bis mulai bergerak dari hotel, tidak sampai setengah jam kemudian kami tiba di Bir Ali (Dzul Hulaifah), ini merupakan tempat miqot terdekat dari Madinah. Kami semua turun untuk melaksanakan sholat sunah ihrom, dan sebelum kembali ke bis, tak lupa foto-foto juga dunks 😀

nasib jadi fotografer, selalu ga ada dalam foto pas bareng begini….hiks ;-(
ustadz laris ya jadi model fobar (foto bareng) ;p

Kembali kedalam bis, ustadz Wahidin membimbing jamaah membaca niat umroh dan bacaan talbiyah:

“Labbaik Allahumma Umratan”
Artinya: Ya Allah kami datang memenuhi panggilan-Mu untuk berumrah

 

Atau,

“Nawaitulumratan wa ahromtu biha lillahi ta’ala” 
 Artinya: Saya berniat melakukan umrah dan berihram dengannya karena Allah ta’ala



Maka mulai berlakulah semua larangan selama berihram…

Bis terus melaju menyusuri jalan Madinah – Makkah yang sudah diaspal mulus. Dulunya, jalan ini hanyalah gurun pasir tandus dan panas, yang dilewati Rasulullah saw saat hijrah dari Makkah ke Madinah dengan mengendarai hewan kesayangannya, unta. Sambil mengenang beratnya perjuangan Rasulullah saw untuk mempertahankan agama Allah dan menyiarkannya ke segenap umat manusia, lisan kami tak putus-putus membaca talbiyah:

“Labbaik Allahumma Labbaik”
Artinya: Kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah
“Labbaika La Syarika Laka Labbaik”
Artinya: Tiada sekutu bagi-Mu dan kami insya Allah memenuhi panggilan-Mu
“Inna Al Hamda Wa An Ni’mata Laka Wa Al Mulka La Syarika Laka
Artinya: Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu
pesona sunset di gurun pasir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s