Traveling

One Day Transit in Doha, Qatar

Pernah mengalami perjalanan dengan kendaraan hingga 8 jam lebih? Gimana rasanya?

Hmm…pegel, capek, bosan….mungkin itu yang biasanya dirasakan ya…Apalagi klo di kendaraannya hanya bisa duduk diam aja, ga bisa jalan-jalan ato menggerakkan badan…weew…mesti tempelin koyo dileher, punggung dan pinggang dah supaya ga kaku hehehe….

Tapi klo perjalanannya menuju ke suatu tempat yang sama sekali belum pernah kita kunjungi, tempat yang awalnya hanya pernah kita lihat gambar atau fotonya aja, tempat yang kita impikan? Wow…jawabannya bisa macem-macem yaaa…..

Ini juga yang saya alami saat berangkat umroh kemarin. Tepat jam 00.30 wib pesawat mulai menerbangkan kami ke angkasa (lebay deh bahasanya hehehe….). Beruntung maskapai Qatar Airways yang kami tumpangi ini memberikan layanan yang sangat memuaskan, sehingga perjalanan sekitar 9 jam kami habiskan dengan tidur hehehe….ga juga sih, ada juga yang bangun utk sholat, ada yang nonton film dari layar LCD masing-masing, dan yang pastinya saat jam makan semuanya pada bangun hehehehe…

courtesy of http://www.qatarisbooming.com

Catatan saya selama perjalanan berangkat dan pulang dengan Qatar Airways, jadwalnya selalu ontime dan pramugari/pramugaranya cantik & ganteng….uppss, maksudnya cekatan mengatur penumpangnya yang berasal dari berbagai negara.

Sekitar jam 5.30 subuh waktu Doha (selisih waktu 4 jam dari wib), pesawat mendarat dengan mulus. Begitu keluar pintu pesawat, hwaaaa….angin dingin langsung menyergap tubuh kami. Yup, bulan Oktober hingga April adalah musim dingin di Qatar. Karena udah hampir penghujung musim, dingin yang kami rasakan tidak ekstrem, mungkin sekitar 18 derajat celcius, kayak berada dalam ruang kantor yang ber-AC aja 😀

Assalammu’alaikum, Doha….brrr…dingiiin 🙂
turun dari bis pesawat langsung masuk immigration counter

Karena pesawat berikutnya yang ke Jeddah baru berangkat pukul 14.30 waktu Doha, kami punya cukup waktu untuk city tour ke dalam kota Doha. Sambil nunggu bis city tour, sesi foto masih berlanjut walopun pada belom mandi pagi hihihihi…..

ibu ketua alumni, mba DS lagi ngobrol ama siapa ya?

Bandara NDIA (New Doha International Airport) yang ada saat ini baru sebagian rampung, namun sudah jauh lebih modern dari bandara international sebelumnya. Menurut rencana, NDIA akan selesai pembangunan dan perluasannya tahun 2015. Nantinya akan ada sistem monorel untuk transit penumpang melalui terminal dan NDIA sudah bisa melayani 25 juta penumpang per tahun.

Sekilas Tentang Qatar
Jam 7 pagi, bis city tour mulai bergerak membawa kami keliling kota Doha. Awalnya obyek kunjungan adalah peternakan unta, stadion olahraga, pacuan kuda, dan lainnya. Namun karena ada sedikit salah paham mengenai informasi rute city tour yang kami dapatkan dengan tour guide, sehingga rute kami berubah menjadi peternakan unta, FANAR, New Doha dan Al Corniche. Sepanjang perjalanan saya manfaatkan untuk menikmati pemandangan dan jeprat-jepret dari jendela mobil.

Kesan pertama saya tentang Doha, kotanya bersih dan rapi. Hampir di setiap lokasi dan jalan yang kami lewati, tampak kesibukan pembangunan gedung dan pelebaran jalan. Qatar memang sedang giat-giatnya melakukan pembangunan fisik. Hal ini cukup beralasan, sebab Qatar telah ditunjuk oleh FIFA menjadi tuan rumah Piala Dunia 2022. Hebat ya! karena belum pernah ada negara Timur-Tengah yang menjadi tuan rumah Piala Dunia loooh…..

masjid di seberangnya bandara NDIA
jalanannya lebar, cukup pake lampu lalu lintas aja, tanpa perlu polantas 🙂
rata-rata mobil disini warnanya putih, kenapa yak?

Menurut cerita sang tour guide, penduduk asli Qatar dikenal dengan istilah Qatari. Qatari ini adalah orang-orang kaya di negaranya sendiri, karena mereka rata-rata adalah para pemilik ladang minyak, dan kalopun ada yang bekerja sebagai pegawai, hanya di kantor-kantor pemerintahan saja. Pemerintah sangat menjamin kesejahteraan bagi Qatari. Pendidikan dan kesehatan diberikan gratis bagi para Qatari. Hal ini berlaku bagi yang menikah dengan sesama Qatari atau Qatari dengan etnis Arab lain. Jika Qatari menikah dengan non-Qatari atau non-Arab, maka keturunannya tersebut tidak mendapatkan pendidikan dan kesehatan gratis tersebut.

Selain Qatari, penduduk Qatar juga banyak pendatang dari berbagai negara, yang bekerja di sektor swasta. Meskipun berada di kawasan Arab dan mayoritas Muslim, dibawah kepemimpinan Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, Qatar mengalami modernisasi dan liberalisasi. Emir Qatar ini menaruh perhatian besar terhadap pendidikan. Salah satu yang menarik dari negara ini adalah, rakyatnya sangat mencintai pemimpinnya, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani, dimana hal ini sudah sangat jarang kita temui saat ini, apalagi di Indonesia hehehe….

Peternakan Unta
Waaah….senangnya bisa lihat unta langsung di tanah Arab, bukan di kebun binatang Ragunan 😀

Unta yang diternakkan disini emang untuk diperjualbelikan, jadinya kumplit nih disini, ada unta jantan, betina, tua dan muda. Yang ga ada cuman unta cantik (itu loh, unta yang didandanin dan biasanya bisa dinaikin ama manusia hehehehe….). Unta yang paling mahal adalah yang muda, karena dagingnya masih empuk, jadinya enak untuk diolah menjadi santapan laziiis….Kasian yah, untanya masih muda udah jadi almarhum 😀

FANAR, Qatar Islamic Cultural Center
Fanar merupakan organisasi pemerintah yang mengusung misi untuk memperkenalkan Islam dan kebudayaan Arab kepada siapa saja yang tertarik untuk mendalaminya. Tempat ini terbuka untuk umum dan gratis. Lebih jelas mengenai Fanar bisa langsung loncat ke websitenya ini nih http://www.fanar.gov.qa/

gedung FANAR
Al Quran kecil
Silsilah Nabi dan Rasul
Salah satu motif etnik di Qatar

Tidak jauh dari gedung Fanar ini adalah pasar tradisional tertua di Qatar, yaitu Souq Waqif. Disini dijual segala macam kebutuhan sehari-hari, suvenir, hingga cafe-cafe yang biasanya ramai dari senja hingga malam hari. Jika anda beruntung, bisa menonton atraksi pasukan berbaju khas Qatar yang mengendarai unta, berbaris dan membentuk formasi tarian. Sayangnya kami ga sempet mampir ke pasar ini karena waktu yang terbatas hiks…. 😦

New Doha
Awalnya perekonomian Qatar digerakkan oleh sektor perikanan dan mutiara, namun sejak ditemukannya simpanan minyak bumi tahun 1940-an, Qatar mengalami kemajuan pesat dengan sumber pemasukan dari ekspor minyak dan gas bumi.

Sepanjang perjalanan kami dari gedung Fanar menuju ke Al Corniche, kami disuguhi pemandangan kota dengan gedung-gedung modern pencakar langit, serta komplek perumahan Qatari dan warga pendatang yang masih dengan ciri khas bangunan asli Qatar.

New Doha dengan geliat pembangunan yang spektakuler
komplek perumahan untuk warga pendatang
sekolah dan asrama
simbol-simbol Piala Dunia 2022 udah mulai marak di Doha
Qatari Oryx atau dikenal dengan nama “Orry” merupakan maskot Asian Games tahun 2006 di Doha

Al Corniche
Dengan lokasi yang berada di pusat kota, akses masuk gratis dan fasilitas lengkap, maka tak heran jika Al Corniche yang terbentang sepanjang 7 km ini menjadi pusat rekreasi yang populer.

salah satu sudut Al Corniche
foto bareng di Al Corniche…ini silaunya matahari dah kayak jam 12 siang, padahal masih jam 10 pagi
terlalu banyak kamera yang motret, jadi ga fokus nih…pada lihat kemana siyy??

Tidak jauh dari Al Corniche ini adalah kantor pusat pemerintahan, tempat Emir Qatar menggerakkan roda pemerintahannya. Sepanjang 7 km, banyak fasilitas hotel, penginapan, restoran, museum dan taman dengan wifi gratis loooh….Kami berhenti di salah satu sudut Al Corniche. Tidak jauh dari tempat kami berhenti adalah Doha Port area dan QMIA (Qatar Museum of Islamic Art).

Dari Doha Port atau fishing port area, kita bisa naik kapal tradisional Arab (dhow), yang akan membawa kita berkeliling dari Doha Bay ke Palm Island bahkan ada yang ke Al Safiliya Island, kemudian kembali ke Al Corniche. Tarif naik dhow ini sekitar QR20 utk dewasa dan QR10 untuk anak-anak.

jejak sejarah Qatar sebagai negara perikanan dan mutiara masih terasa ampe sekarang dengan keberadaan port ini

Salah satu bangunan yang menarik perhatian saya saat berhenti disini adalah QMIA.

QMIA dan dhow, identitas Qatar bangeeet…

QMIA dibangun atas prakarsa Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al-Thani dengan menunjuk langsung Ieoh Ming Pei sebagai master arsiteknya. Desain QMIA ini terinspirasi dari masjid Ibn Tulun di Mesir dan Al Hambra di Spanyol. QMIA adalah rumah bagi sekitar 800 koleksi artefak yang dikumpulkan dari tiga benua mulai dari Timur Tengah hingga India dan Spanyol. Sayangnya kami datang kepagian, jadinya ga bisa masuk ke dalam museum ini, karena jam bukanya adalah jam 10.30 – 17.30. Website resmi QMIA bisa dilihat disini ya http://www.mia.org.qa/

QMIA adalah tempat yang terakhir yang kami kunjungi karena tour guide harus segera mengantar kami kembali ke bandara untuk makan siang sambil menunggu pesawatnya siap untuk melanjutkan penerbangan ke Jeddah.

Terus terang saya belum puas mengenal Doha dan Qatar, pengennya lebih lama lagi hehehe….Tapi paling ga ini jadi motivasi saya agar bisa kesana lagi, yaaah….at least pas World Cup 2022 di Doha saya juga bisa ikut hadir menyaksikan perhelatan dunia ini, hopefully with my lovely husband and kiddos….Amin ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s