Traveling

Seminggu di Penang

Traveling kali ini bisa dibilang impulsive, why? Karena memutuskan cuti saat lagi jenuh tingkat dewa dengan tekanan dan masalah pekerjaan di kantor yang menyebabkan maag akut kambuh. Ditambah lagi urusan hati yang kacau balau, komplit deh.

Sebenernya cuti gak seminggu full di Penang sih, karena sebelumnya jalan-jalan dulu sama adek Yan dan Mia di Singapura. Abis dari Singapura baru deh lanjut naik pesawat Jetstar direct Changi – Penang. Total selama di Penang dari tanggal 19 – 23 Mei 2014.

Di Penang aku sengaja cari penginapan murah yang dekat dengan Rumah Sakit Adventist, karena tujuan utamanya mau Endoskopi di rumah sakit ini. Dari hasil browsing, ketemulah penginapan bernama Doubletree Inn. Tapi penginapan ini gak ada dalam website Agoda.com ataupun Hotelscombined.com saat itu. Satu-satunya cara untuk booking adalah kirim email ke pemilik penginapan yang bernama Jenny Lim (doubletree.inn@gmail.com). Oia, jangan salah sangka ya, penginapan ini gak ada hubungannya dengan jaringan hotel Hilton group yang namanya mirip. Tapi aku punya pengalaman gak enak dengan si pemilik penginapan yang sempat bikin aku lost sama urusan penginapan.

Jadi ceritanya gini…

Beberapa hari sebelum nyampe di Penang, aku udah browsing beberapa penginapan murah dan review tentang berobat di Penang. Ya, selain Malaka, Penang juga terkenal sebagai tujuan wisata medis di Malaysia. Aku pilih Rumah Sakit Adventist karena rekomendasi temen kantor dulu. Sementara untuk penginapan aku pilih penginapan murah dan saat email2an dengan pemiliknya, ternyata mereka menyediakan jasa penjemputan ke bandara juga. Langsung deh aku booking via si ibu, karena baca di beberapa blog, di Penang transportasinya belum secanggih di Singapura. Dan untuk urusan taksi, termasuk yang gak recommended karena gak pakai argo jadi kudu nego-nego dulu, males deh. Transportasi lain dari bandara ke tengah kota Penang adalah bis dan rental mobil. Namun aku gak mengambil opsi transportasi tersebut karena menghemat waktu, juga karena aku hanya sendirian dan baru pertama kali menginjakkan kaki di Penang.

Sesaat sebelum pesawat landing, aku melongok ke jendela. Takjub melihat pulau yang hijau dan berbukit-bukit. Perasaan campur aduk layaknya orang yang akhirnya bisa menginjakkan kaki di tempat yang sebelumnya hanya impian atau hayalan belaka. Setelah urusan bagasi selesai, aku berjalan keluar sambil mencari seseorang yang membawa tulisan namaku. Bersyukur tak lama aku melihat seorang bapak paruh baya memegang kertas bertuliskan namaku.Aku menghampiri dan mengikuti beliau ke mobil. Saat itu hanya aku sendiri yang jadi tamu si bapak, karena tamu yang lain belum landing cerita beliau dengan logat Melayu khas Malaysia.

Sepanjang perjalanan menuju penginapan, aku memperhatikan tata kota di pulau Penang ini mirip dengan kota-kota kecil di Indonesia, perpaduan antara kota lama dan pembangunan baru dengan gedung perkantoran dan mall di beberapa titik kota. Konon wisata medis memang jadi salah satu penggerak roda perekonomian pulau ini, maka tak heran banyak penginapan dan hotel bermunculan di sekitar rumah sakit. Hampir 1 jam perjalanan dari bandara, aku tiba di sebuah rumah bertingkat dua di salah satu komplek perumahan. Dari luar terlihat seperti rumah biasa, tapi saat masuk baru terlihat bagian dalam rumah yang terdiri dari beberapa kamar. Aku tak bertemu dengan ibu Jenny Lim di rumah ini, kata pembantu yang menjaga rumah, ibu Jenny sedang di rumah penginapan yang lain, dan sang pembantu juga tidak dititipi pesan tentang kedatanganku. Waduh.

Hampir satu jam menunggu, akhirnya aku dijemput lagi oleh si bapak paruh baya, katanya aku pindah ke rumah lain. Bingung campur bete, aku ikut si bapak naik mobil lagi ke rumah lainnya yang terletak di 5 Jalan Brown, Pulau Tikus, Georgetown. Tak lama aku tiba di rumah yang lokasinya lebih dekat dengan Rumah Sakit Adventist dan bangunan rumah tampak lebih baru, terawat dan bersih daripada yang awal tadi. Disini pun aku menunggu lagi karena semua kamar masih penuh, menunggu jam check out dan check in setelah kamar dibersihkan. Walaupun harus membayar harga sewa kamar yang sedikit lebih mahal daripada saat booking via email, karena aku sudah ngantuk, lapar dan kelelahan jika harus cancel dan mencari penginapan lain, aku terima saja yang penting bisa dapat kamar dan istirahat. Rencana hendak registrasi ke rumah sakit hari pertama ini pun gagal. Hari pertama aku habiskan dengan berjalan di sekitar penginapan, Midlands Park Center dan istirahat.

Hari kedua dan ketiga aku habiskan dengan bolak-balik rumah sakit untuk urusan endoskopi. Ternyata tes endoskopi gak seserem yang aku bayangkan. Disini prosedurnya cepat, gak terasa sakit dan hasilnya? Lambungku masih sehat aja, walopun ada lecet di bagian bawah lambung dekat usus besar. Kenapa sampai butuh waktu 2 hari? Karena antrian panjang mulai dari registrasi, konsul dokter hingga laboratory dan apotekJangan kaget kalo pasien disini mayoritas justru orang Indonesia. Stigma dokter yang bagus, fasilitas rumah sakit yang lengkap dan murah di Malaysia daripada Indonesia masih tertanam dalam benak sebagian masyarakat kita.

Hari keempat saatnya explore Penang, yeaayy! Sebenarnya ada beberapa pilihan wisata di Penang, seperti pantai, batu ferringhi, pemandangan batu-batuan, temple, Masjid Terapung, butterworth (kita perlu menyebrang menggunakan kapal kurang dari 20 menit), Penang Hill, mural atau street art di beberapa lokasi di daerah Georgetown dan wisata kuliner. Karena keterbatasan waktu, saya memilih Penang Hill dan mural di Georgetown. Sayangnya karena hujan turun cukup deras saat aku di Penang Hill, akhirnya rencana melihat mural batal karena udah kesorean.

Untuk mencapai Penang Hill, aku naik bis dari halte depan RS. Adventist, turun di KOMTAR lalu berganti bis yang menuju ke Penang Hill. KOMTAR adalah singkatan dari nama gedung tertinggi di Penang, yaitu Kompleks Tun Abdul Razak. Semua jalur bis pasti melalui tempat ini, semacam interchange antar rute bis. Bis di Penang adalah transportasi publik yang aman, nyaman dan murah. Selalu siapkan uang pas saat naik bis ya, karena supir bis tidak menyediakan uang kembalian. Setelah penumpang memasukkan uang ke dalam box di pintu masuk, supir akan memberikan tiket kertas.

Lama perjalanan menuju Penang Hill sekitar 1 jam, termasuk waktu tunggu ganti bis di KOMTAR. Tiket masuk Penang Hill adalah RM 30 untuk turis. Penang Hill adalah sebutan dalam Bahasa Inggris untuk Bukit Bendera yang ada di Pulau Penang, Malaysia. Nama awalnya adalah Bukit Bendera Pulau Penang atau Flag Hill. Namun karena dari bukit ini menjadi titik tertinggi (sekitar 830 meter diatas Kota George Town) untuk bisa melihat Pulau Pinang secara keseluruhan, maka disebutlah ini menjadi Bukit Penang atau Penang Hill yang sudah dibuka untuk umum sejak tahun 1923.

Ada 2 kereta yang akan naik dan turun secara bergantian dengan selang waktu sekitar 20-30 menit. Perjalanan kereta ke Penang Hill sekitar 5 menit dan ternyata rel kereta api ini dibangun selama 17 tahun dari 1906 hingga 1923. Nanti kereta juga akan melintasi terowongan sepanjang sekitar 10 meter yang tahun pembangunan 1922. Kereta yang dipakai kini merupakan kereta terbaru dengan daya angkut sekitar 80 penumpang dan desain kereta yang miring menyesuaikan kemiringan bukit sekitar 45 derajat.

Saat tiba di Penang Hill, sangat jelas terlihat pengaruh arsitektur Eropa di beberapa bangunan yang ada. Jarang sekali terlihat kendaraan bermotor di Penang Hill, hanya terdapat beberapa kendaraan seperti Golf Car yang disewakan untuk pengunjung yang malas jalan kaki mengelilingi Penang Hill. Namun jalan kaki merupakan pilihan yang tepat karena udara yang sejuk dan tersedianya pedestrian dengan pohon rindang yang tidak akan membuat kepanasan. Fasilitas di Penang Hill sangat lengkap, disini ada restoran dengan view yang menakjubkan, hotel berbintang (Hotel Bellevue), kios cinderamata, penjual makanan dan cemilan, food court, museum, kafe hingga arena bermain anak. Yang paling menarik adalah Museum Burung Hantu (Owl Museum), Kuil Hindu India dan sebuah Masjid kecil berkubah emas. Tersedia pula teropong untuk melihat lebih jelas George Town dari Penang Hill. Hanya membayar 1 RM, untuk melihat selama sekitar 5 menit. Terlihat Penang Bridge, KOMTAR, Pelabuhan dan gedung-gedung tinggi lainnya.

Puas berkeliling Penang Hill, aku turun kembali ke KOMTAR, mencicipi kuliner nasi biryani dan teh tarik di resto dekat KOMTAR, kemudian menghabiskan hari hingga malam di sepanjang pesisir pantai daerah Gurney (Persiaran Gurney). Disini terdapat  2 mall yang cukup besar yaitu Gurney Paragon dan Gurney Plaza, serta salah satu food hawker atau food street terbesar di Penang yaitu Gurney Drive Hawker Centre.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s