Traveling

Lom Plai dan Ekspedisi Wehea

“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”

Hampir delapan tahun bekerja dan tinggal di Sangatta, pengetahuanku tentang alam dan budaya Kalimantan masih minim sekali. Bukan karena enggan atau tidak suka, tetapi rencana perjalanan ini dan itu seringkali mentah di tengah jalan. Kalo jalan sendiri? Masih belum cukup keberanian.

Sampai akhirnya beberapa hari lalu, aku mendapatkan informasi tentang pesta panen raya yang akan diselenggarakan di Muara Wahau dan kegiatan jungle trekking ke hutan lindung Wehea, tanggal 7 – 9 April 2017. Dengan semangat aku mengajak teman kantor untuk ikut, tetapi hanya sedikit yang merespon, itu pun masih dengan nada ragu-ragu. Tidak surut semangat, aku terus aja ngoceh nanyain teman-teman yang lain dan begitu tahu ada teman yang akan berangkat juga, aku langsung loncat kegirangan, yeay!

Sabtu pagi tanggal 8 April 2017, kami berangkat dari Wisma Rayah Sangatta dengan konvoi 3 mobil. Perjalanan ditempuh dalam waktu 4 jam melalui Rantau Pulung hingga tiba di desa Nehas Liah Bing.

LOM PLAI

“Lom Plai kalau diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, artinya pesta atau dalam bahasa kutai biasa disebut sebagai Erau. Lom Plai artinya pesta syukur panen,” ujar Ladjie Taq, Kepala Adat Wehea, dalam sambutan pelaksanaan Lom Plai di lapangan  Desa Nihas Liah Bing (Slabing), Kecematan Muara Wahau,  Sabtu, 8 April 2017. Lom Plai adalah upacara tradisional masyarakat Suku Wehea yang mediami daerah-daerah di wilayah sungai Wehea dan Telen, Kecamatan Muara Wahau, Kutai Timur, Kalimantan Timur. Lom Plai dilaksanakan setahun sekali oleh masyarakat Suku Wehea setelah melakukan panen padi.

“Lom Plai itu terdiri dari banyak sekali ritual, yang seluruhnya adalah penghormatan dan ungkapan syukur kami kepada Yang Maha Kuasa atas segala nikmat yang sudah diturunkannya, terutama nikmat atas panen padi yang baik dan melimpah. Juga harapan agar musim tanam berikutnya juga sebaik sekarang atau lebih lagi,” tutur Ledjie.

“Ngesea Egung” adalah pemukulan gong tanda Lom Plai resmi dimulai.

Rangkaian upacara tahun ini mencapai puncaknya pada Sabtu 8 April, dimulai dinihari dengan “Embob Jengea”, yaitu ritual memasak lemang dan beang bit, dan diakhiri dengan tarian Hudoq di lapangan sepakbola desa.

Lemang adalah nasi ketan yang dimasak khusus di dalam bumbung bambu. Beang bit, adalah sejenis dodol dari gula merah dan santan kelapa.

Menjelang siang, “Embos Min” dimulai. Ini upacara bersih desa, yang bertujuan membuang segala kesialan dan kejahatan yang ada di kampung. Sejumlah perempuan dewasa berbaris, lalu berjalan mengelilingi desa dari hilir kampung ke arah hulu dan kemudian kembali ke hilir kampung. Mereka mengenakan kain yang dipakai sebagai kemben dan topi merah dari anyaman rotan. Saat rombongan ini berjalan, tak boleh seorang pun, bahkan hewan sekalipun diizinkan melintas di depan rombongan.

Sembari menunggu Embos Min selesai, beberapa acara dilaksanakan di sungai Wahau.

Plaq Sai, sebuah lomba balap perahu secara tradisional yang masih hidup dan berkembang dalam tradisi Suku Dayak Wehea. Teriakan-teriakan khas pun mulai terdengar sebagai penyemangat bagi para pedayung perahu untuk memenangkan “lomba” tersebut.

Setelah lomba balap perahu atau lomba dayung, Seksiang dimainkan. Inilah laga perang-perangan di Sungai Wehea. Puluhan perahu berisi lima sampai tujuh prajurit Wehea berpakaian khas warna-warni meluncur dari arah hulu ke hilir. Mereka saling membidik dengan tombak dari rumput gajah atau sumpit dengan anak sumpit terbuat dari tanah liat lengkap dengan teriakan perang, yang juga disahuti oleh para penonton di tepi sungai.

Acara berikutnya yang paling ditunggu anak-anak muda, Peknain. Semua boleh saling menyiram air dan mengoleskan jelaga. Di setiap sudut kampung sejumlah remaja terlihat membawa ember dan gayung dan panci atau wajan yang pantatnya hitam penuh jelaga. Kepada siapa pun yang mereka temui, setelah diolesi jelaga di pipi, segeralah si orang yang beruntung basah kuyup diguyur air.

Suasana pesta yang meriah pun mewarnai seluruh kampung sampai Ledjie Taq memimpin penabuhan gong tanda menutup seluruh ritual secara resmi. Bagian acara Lom Plai diluar ritual adat akan dimulai pukul 3 sore yang akan diisi dengan tari-tarian termasuk Hudoq.

DSC00923

Selesai ritual adat, kami istirahat sejenak di rumah salah satu warga yang ternyata Dayak muslim. Aku sendiri melihat keramahan Dayak Wehea disini. Selama Lom Plai berlangsung, tamu dan pengunjung dari luar desa bukan saja diundang makan di rumah-rumah penduduk, tetapi rumah mereka terbuka bagi siapa saja yang hendak menginap, gratis.

Sedikit disayangkan, acara penutupan Lom Plai ini bisa dibilang antiklimaks. Pidato sambutan yang terlalu panjang dan penonton yang memaksa masuk ke tengah lapangan saat tarian Hudoq, membuat keindahan acara menjadi terganggu.

EKSPEDISI WEHEA

Sukses dengan ekspedisi Kutai Timur (Kutim) I tahun lalu di Gua Karst, tahun ini pemkab Kutim kembali menghelat Ekspedisi Kutim II di Hutan Lindung Wehea. Tak tanggung, target peserta bukan hanya pengunjung dari Kutim saja, tapi terbuka untuk umum bahkan mancanegara. Tak heran jika peserta akhirnya membludak, dari estimasi 200 orang menjadi 369 orang, yang tentu saja membuat panitia kewalahan sejak awal acara. Ekspedisi Wehea ini murni program promosi Dinas Pariwisata Kutim sehingga peserta tidak dipungut bayaran sepeserpun, bahkan disediakan konsumsi, kaos dan tenda gratis selama acara berlangsung.

Buat aku, ekspedisi Wehea ini paling seru dari perjalanan kali ini. Mba Anis dan Santy yang awalnya mau ikut ekspedisi juga, mendadak batal. Sementara aku tetap kekeuh ikut ekspedisi, padahal gak ada peserta yang aku kenal, mau bareng siapa? Mau nebeng mobil siapa? Pasrah.

Kalo kondisi seperti ini, sebenarnya gak perlu takut juga. Asal kita mau nanya sama peserta lain atau panitia, bisa aja dibantu untuk nebeng. Tapi sebagai traveler perempuan, aku tetap pake pertimbangan rasa aman. Alhamdulillah, selama ekspedisi Wehea ini, aku merasa selalu dijaga dan dilindungi dari hal-hal yang tidak baik.

Dimulai dari saat akan berangkat. Awalnya aku ikut Elpin temannya Santy, yang ternyata nebeng juga di mobil jeep komunitas Pelopor. Saat di parkiran sambil nunggu jeep menyiapkan barang bawaan, aku gak sengaja ngobrol dengan Pak Herris dari komunitas PETA. Ternyata aku sudah pernah beberapa kali berkomunikasi via e-mail kantor dengan Pak Herris, tapi baru kali ini bertemu langsung. Karena aku perempuan sendiri, Pak Herris lalu menawarkan ikut mobil dia bareng dengan empat temannya, daripada naik jeep mending naik innova lebih nyaman katanya. Bergabunglah aku dengan Pak Herris, bang Shandy, bang Big, bang Udin dan bang Upi. Emang gak salah gabung sama mereka, selama perjalanan isinya becandaan dan gombalan hahaha.

Rombongan sempat berhenti istirahat di base camp PT. Gunung Gajah Abadi untuk makan malam yang sudah disediakan panitia dan sholat, sebelum melanjutkan perjalanan ke camp Hutan Lindung Wehea (Huliwa). Saat melanjutkan perjalanan ini, kami tetap menggunakan mobil innova karena kata panitia, innova masih aman untuk sampai keatas.

Ternyata, medan jalan yang terjal, membuat innova yang kami tumpangi terpaksa ditinggalkan ditengah jalan dan kami nebeng mobil 4WD peserta lain. Disini aku berkenalan dengan peserta perempuan lainnya yaitu Puput dan Dessy. Dengan Dessy inilah aku kemana-mana bareng selama menginap di camp Huliwa.

Jam 9 malam mobil kami tiba di camp Huliwa. Aku dan Dessy mengikuti peserta perempuan yang lain, menginap di kantor camp Huliwa, sementara Pak Herris dll mendirikan tenda yang sudah dibawa karena ternyata tenda dari panitia tidak cukup kapasitasnya.

Jam 10 malam, acara diskusi wakil bupati Kutim, perwakilan dari Kementrian KLH, kepala adat Wehea, camat Kongbeng, camat Muara Wahau, PM camp Huliwa bersama seluruh peserta dimulai. Acara yang diagendakan sampai pukul 11 malam akhirnya molor sampai jam 12 malam karena antusiasme pertanyaan dari peserta. Acara ditutup dengan kesepakatan lokasi kegiatan Ekspedisi Kutim III tahun 2018 yang akan dilaksanakan di Birah-Birahan dan Pulau Miang.

I’m in the middle of nowhere. Tengah malam. Ngantuk. Gelap gak ada listrik. Gak ada sinyal sama sekali, hanya mengandalkan HT pinjaman dari geng PETA. Balik ke kantor camp, peserta perempuan yang lain udah duluan tepar, menghabiskan jatah kasur, bantal, selimut di ruang tengah dan kamar tidur. Tersisa satu ruangan kamar disebelah kamar mandi yang biasanya dipakai untuk gudang.

Agak dramatis ya hahaha. Tapi herannya kok aku gak cranky, badan gak rewel mabok darat sama sekali dan malah bisa tidur nyenyak, hanya dengan bantal kepala, tanpa alas tidur dan selimut. Lumayanlah gak terlalu dingin dan banyak nyamuk, ketimbang kalo tidur di tenda. Dan biasanya kalo di tempat baru, aku selalu kesulitan bab, ini malah lancar banget, jam 4.30 udah kebangun karena mules dan bab banyaaakk *uppss ini sensor aja deh*

Jam 5.30 pagi aku udah selesai mandi dan sholat subuh, udah siap-siap semangat mau jungle trekking pagi ini. Lah kok tiba-tiba hujan deras. Mati gaya deh ngitungin tetes air hujan.

Jam 9 pagi setelah selesai sarapan dan hujan reda, rombongan trekking mulai bergerak, setelah sebelumnya diawali dengan acara adat singkat dan foto bersama semua peserta yang sudah mengenakan kaos seragam kuning dan oranye. Kemudian semua peserta bergerak menuju deretan mobil 4WD yang sudah bersiap di parkiran camp untuk mengantarkan peserta ke lokasi riset, titik dimana jungle trekking akan dimulai. Aku pun sudah duduk manis di bak belakang mobil bersama bang Ebbie dan geng PETA.

Mendadak agenda berubah.

Mobil paling depan yang membawa wakil bupati Kutim ternyata pecah ban saat akan melalui tanjakan berlumpur dan berbatu. Otomatis semua mobil di belakang tertahan gak bisa jalan.

Menunggu mobil depan ditarik dan diamankan ke lokasi riset, semua peserta turun dari mobil untuk berkemas semua barang dibawa sekalian, agar setelah trekking bisa langsung pulang tanpa harus bolak-balik ke camp Huliwa.

Sambil mengisi waktu, aku ngobrol sama bang Ebbie yang sebelumnya kami pernah bertemu di Sangalaki. Sebagai travel photographer kondang, ternyata orangnya humble dan gak gengsi cerita apa aja. Jauh-jauh di hutan, ketemunya sesama wong kito galo hahaha.

Hampir dua jam kemudian aku dan mobil wakapolsek Muara Wahau yang aku tumpangi bisa bergerak dari camp dan sempat stuck di tanjakan lumpur.

Tiba di lokasi riset, kami kebingungan, ngapain disini? Tidak ada tampak panitia yang mengarahkan.

Karena mobil wakapolsek Muara Wahau yang aku tumpangi akan langsung turun pulang, sementara semua barangku dan barang geng PETA ada didalam mobil tersebut, akhirnya aku urung mencoba salah satu jalur trekking dan ikut turun dan berkumpul kembali dengan geng PETA lainnya untuk lanjut kembali ke desa Nehas Liah Bing.

Tiba di desa Nehas Liah Bing, aku memisahkan diri dengan geng PETA, karena akan melanjutkan perjalanan ke Sangatta bersama bang Ebbie dan asistennya Agit dengan mobil yang dikendarai oleh Yostha.

Walaupun kecewa gak sempat trekking, tapi tetap perjalanan ini means so much for me.

Tentang berani mencoba sesaat keluar dari comfort zone, melawan rasa malas dan takut, berdamai dengan kondisi yang gak selalu sesuai harapan dan rencana kita, tentang melepaskan beban yang tak perlu dibawa, move on dan membuka hati, bahwa diluar sana masih banyak orang baik, dan pertolongan Allah itu dekat.

Dan pengalaman ini juga membuka kembali memori masa kecil di Tarempa, Anambas. Aku paling suka diajak naik dan nginap di kebun Aki (kakek) melewati hutan belantara. Tidur di rumah yang gak ada listrik, main dan mandi di mata air yang jernih dan sejuk, sepanjang mata memandang hanya hijau, suara binatang sahut-sahutan.

DSC01039

DSC01058

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s