Family & Friends

PEREMPUAN WAJIB MELEK FINANSIAL (Bagian 1)

Hana. Sulung dari 3 bersaudara. Anak perempuan yang sejak kecil telah dicekoki dengan tanggungjawab sebagai pemegang tongkat estafet tulang punggung keluarga jika bapak pensiun. Maklum, Hana lahir saat bapak berusia 43 tahun dan ibu 26 tahun. Tak banyak yang bisa diharapkan dari penghasilan bapak yang hanya seorang PNS “terlalu jujur”. Pun dari ibu, yang terlalu patuh pada suaminya, yang manut saja ketika bapak tidak mengizinkan ibu mengabdi sebagai guru agama sesuai dengan cita-cita dan ijazah yang telah susah payah diraihnya.

“Ibu mengurus rumahtangga, suami dan anak-anak saja, biar bapak yang cari nafkah.”

Terdengar sangat indah bagi perempuan naif macam ibu, yang percaya saja menikah dengan bapak tanpa pernah kenal apalagi pacaran sebelumnya. Bukan, bukan perjodohan bak Siti Nurbaya dan Datuk Maringgih, karena bapak juga bukan lelaki tua kaya raya.

Naif yang harus dibayar mahal sepanjang hidup ibu. Yang membuat ibu selalu mengulang-ngulang kata ini kepada Hana,

“Kamu sekolah yang tinggi, sampai kuliah, abis itu cari kerja supaya punya penghasilan sendiri. Jangan berhenti kerja walaupun udah menikah. Jangan kayak ibu gak punya penghasilan sendiri, menggantungkan hidup sama suami”

Ini adalah pelajaran tentang keuangan yang sejak dini ditelan mentah-mentah oleh Hana, selain dua pelajaran lain dari kedua orangtuanya,

“Hemat pangkal kaya, makanya nabung”

“Jangan bergaul dan berteman sama anak orang kaya, nanti kamu ketularan borosnya”

Butuh waktu 30 tahun bagi Hana untuk akhirnya menyadari bahwa dia menyimpan trauma yang dalam dan sangat rapi atas pernikahan orangtuanya.

Trauma yang tanpa sadar mempengaruhi money habit seorang Hana, terutama sejak bekerja dan punya penghasilan sendiri.

Tiap bulan gajinya selalu habis, entah untuk belanja pakaian, jalan-jalan dan jajan.

Hana gak sadar bahwa nafsu untuk menghabiskan uang karena ada dorongan dalam dirinya yang selalu kekurangan; berakar dari “rasa kurang” yang tersimpan dalam memori masa kecilnya.

Dysfunctional Family.

Ibu gak pernah tau berapa gaji bapak tiap bulan. Yang ibu tau bahwa selain jatah uang bulanan yang diberikan bapak ke ibu, bapak juga tiap bulan mengirimkan uang bulanan untuk keluarganya di kampung, yang jumlahnya juga ibu gak pernah tau.

The worst thing is, ibu baru pertama kali pegang slip gaji dan slip uang pensiun, saat akan mengurus semua keperluan dokumen setelah bapak meninggal. Oh bukan hanya itu, ibu juga baru tau bapak punya rekening di bank apa saja, punya asuransi jiwa juga.

Gak usah dibayangkan betapa ribetnya ibu mengurus ke bank dan asuransi, dengan kondisi ibu yang seumur hidupnya gak pernah kenal asuransi dan berurusan langsung ke bank. Hasilnya, entah karena bapak salah beli produk asuransi jiwa atau agen asuransinya yang nakal memanfaatkan ketidaktahuan ibu, asuransi jiwa bapak tidak memenuhi syarat untuk pencairan alias klaimnya NOL rupiah.

“Kenapa ibu gak nanya bapak selama ini?”

“Ibu takut bapak marah-marah, ntar jatah uang bulanan dikurangi. Selama ini aja uang bulanan selalu pas-pasan (kalo gak mau dibilang kurang, karena ibu selalu kasbon ke warung untuk belanja bulanan) buat bayar sekolah dan transportasi. Kalo ibu beli loyang, mixer, oven, dll dari hasil nyisihin uang bulanan, bapak langsung melotot dan ngomel-ngomel”

Seorang ibu, dengan usia yang sudah  tidak muda lagi, yang gak punya pengalaman kerja sama sekali, gak punya sumber penghasilan untuk keluarga selain dari bapak, harus melanjutkan tongkat estafet tulang punggung keluarga karena semua anaknya masih sekolah. Jangan ditanya warisan bapak, gak ada, selain uang beberapa juta di rekening tabungan, cicilan KPR yang belum lunas dan uang pensiun PNS yang jumlahnya cukup untuk uang makan saja.

Bisa dibayangkan bagaimana caranya ibu melanjutkan hidup bersama ketiga anaknya?

Jaman now, berapa banyak perempuan yang masih seperti Hana dan ibunya? (bersambung Bagian 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s