Family & Friends

MY BODY, MY RULES

Dua bulan terakhir, sejak aku mulai mengunggah swafoto setelah berolahraga, beberapa orang teman menyampaikan komentar yang senada:

“Kurusan ya?”

“Diet ya? Diet apa?”

Tentu saja aku menjawab yang sejujurnya: iya aku kurusan karena menjalankan program diet.

Lalu berlanjutlah pertanyaan dan komentar yang dilontarkan baik melalui pesan Instagram, Whatsapp, ataupun saat bertemu langsung. Baik pertanyaan dan komentar yang normatif, seperti:

“Pola makan selama diet gimana?”

“Olahraganya apa aja?”

Sampai komentar yang menurutku sudah tahap “mengganggu”, that I have to set the boundaries, a.k.a gak perlu direspon lebih lanjut, semisal:

Saat aku mengunggah foto bakmie, kopi, lontong sayur padang, lalu ada yang berkomentar,”karbo tuh, katanya diet?”. Mungkin maksudnya bercanda, tetapi I have my own boundaries, my body, my rules.

 

Invest in New Mindset

If we don’t change, we don’t grow. If we don’t grow, we aren’t really living. 

Gail Sheehy

Sejak pindah ke Jakarta bulan September 2018, berat badanku naik dari 58kg menjadi 64kg. Tentu saja bukan tanpa sebab. Sejak di Jakarta, aku yang suka sekali mencoba berbagai macam kuliner dengan pilihan yang jauh lebih banyak daripada saat aku tinggal di Sangatta, semakin ketagihan dengan es kopi susu, minuman boba, mie ayam, nasi padang, bubur ayam. Dalam sehari, aku bisa jajan es kopi susu hingga dua gelas.

Bulan February 2019, aku sempat mengikuti program weight & strength training dengan personal trainer (PT) di tempat aku menjadi member gym. Selama program 24 kali pertemuan tersebut, aku tidak hanya latihan fisik, tetapi juga dianjurkan untuk memperbaiki pola makan, dengan membatasi gorengan, tepung dan gula. Entah karena saat itu motivasi diri sendiri masih kurang, aku tidak sungguh-sungguh menjalankannya. Walhasil, setelah program, berat badan hanya turun 2kg.

Bulan April 2019, aku mencoba program weight loss online di @thefamousfitness . Dan lagi, karena gak ada komitmen yang kuat sama diri sendiri, aku tidak sungguh-sungguh menjalankan program ini.

Bulan September 2019, aku sudah merasa hopeless dengan kebugaran/fitness tubuhku yang semakin menurun. Aku mulai rajin membaca literatur kesehatan di internet, yang mengantarkanku pada pemahaman Holistic Wellness/Kesehatan Holistik, yaitu konsep kesehatan yang menyeluruh tidak hanya pada satu aspek saja tapi pada banyak aspek seperti tubuh, pikiran dan jiwa.

Singkat cerita, masalah berat badanku, bukan hanya karena pola makan dan pola hidup yang buruk, tetapi satu paket aspek tubuh, pikiran dan jiwa.

 

Rely on My Body

Karena sudah rutin mengikuti kelas emotional healing sejak tahun 2013, hal pertama yang aku lakukan adalah detoks sampah emosi dan mencari program weight loss yang cocok.

Aku mau badanku lebih sehat, dengan bonus turun berat badan.

Ini adalah niatku sejak awal Oktober 2019, ketika aku memilih program weight loss di klinik Light House, referensi dari Sofie temanku. Dari semua program yang tersedia, aku memilih Light Weight Basic Package Seri 1, yang terdiri dari 1x tes DNA, 2x konsultasi dokter dan 12x konsultasi ahli gizi/nutritionist. Aku sengaja memilih paket yang tidak menggunakan treatment (lipostripping, lipoburn, dll) apapun, karena ingin mengandalkan kemampuan dan kecerdasan tubuhku secara alami. Dengan berat badan dan usia segini, apakah tubuhku masih mampu turun berat badan? 

P_20191221_170708

Oh ya, jangan bayangkan tes DNA kayak di film ya, karena tes DNA disini berfungsi untuk mengecek adakah mutasi gen dalam tubuh seseorang yang membuatnya cepat gemuk atau sulit langsing.

Tes ini dapat mengecek:

  • Diet yang cocok apakah yang rendah karbo, rendah lemak atau rendah kalori.
  • Respons tubuh terhadap makanan tergolong normal atau susah kenyang.
  • Sistem penyimpanan lemak tubuh termasuk normal atau lebih gampang menimbun lemak.
  • Penyerapan lemak tubuh terhitung normal atau lebih gampang menyerap lemak.
  • Bagaimana tendensi kenaikan berat badan, apakah normal atau lebih gampang naik berat.

Btw, dari beberapa tulisan yang aku baca, perkembangan tren kesehatan akan menuju pada pengobatan dengan diagnosa berbasis genetik.

Screenshot_20200304-223045969_1

 

Makanan Bukan Musuh

Saat pertemuan awal dengan dokter, aku mendapatkan informasi dasar mengenai program, penjelasan tentang hasil pengukuran awal kondisi tubuhku. Jujur, saat pertemuan awal tersebut, aku tidak punya target mau turun berat badan berapa kg, hanya ingin ada kemajuan kesehatan dan penurunan berat badan saja. Makanya, ketika dokter menyampaikan bahwa untuk mencapai penurunan BMI dari Obesitas II menjadi Normal, aku harus turun berat badan sebanyak 15kg, aku percaya saja. 

P_20191116_080712

Dari hasil tes DNA, ternyata hasilnya adalah:

  • Diet yang cocok adalah yang rendah karbo.
  • Respons tubuh terhadap makanan tergolong normal.
  • Sistem penyimpanan lemak tubuh termasuk lebih gampang menimbun lemak.
  • Penyerapan lemak tubuh terhitung normal.
  • Tendensi kenaikan berat badan termasuk normal.
  • Metabolic Rate terhitung rendah.

Setiap minggu selama sebelas minggu berturut-turut, aku rutin bertemu dengan ahli gizi untuk konsultasi programku. Selain konsultasi tentang pola makan dan kemajuan programku selama seminggu, tiap minggu selalu ada materi ilmu dan skill baru yang diajarkan oleh ahli gizi. Aku bisa curhat sepuasnya tentang kesulitan dan pengalaman pola makan tiap minggu. Ada kalanya angka timbangan turun, kadang gak bergerak, pernah juga malah naik beberapa ons. But the nutritionist never judge me. Apapun progress-nya, aku selalu di-encourage untuk menikmati prosesnya.

Selama proses menjalankan pola makan yang diajarkan oleh ahli gizi, aku sembari belajar ‘membaca’ tubuhku sendiri. Misalnya, saat suatu hari aku ngemil kue kering dan roti, atau di hari lain aku makan malam dengan menu nasi goreng, maka hasil timbangan komposisi tubuh Tanita akan menunjukkan kenaikan muscle mass yang cukup signifikan. Sejalan dengan hasil tes DNA, badanku sensitif terhadap karbo.

Kalo ditanya, selama diet aku makannya apa aja, sejujurnya aku memilih untuk tidak menjawab pertanyaan seperti ini. Karena, tiap orang kondisi tubuhnya kan berbeda-beda, maka reaksi tubuhnya terhadap makanan pun pasti berbeda. Pola makan yang aku jalani, dirancang oleh dokter dan ahli giziku untuk badan, berat, tinggi, kondisi dan usiaku. Pola makan ini jika diikuti orang lain, belum tentu cocok.

Maka jawabanku akan normatif saja: makan saat perut lapar (bukan lapar mata) dan jauhi gula, tepung-tepungan dan goreng-gorengan.

P_20200109_064555

Poin penting dalam mengatur pola makanku adalah: defisit kalori, perut harus selalu kenyang dan menikmati prosesnya. Aku juga tidak mengandalkan konsumsi jus tertentu, suplemen ataupun obat tertentu selama program diet. Dari apa yang telah diajarkan oleh ahli gizi, aku terbiasa memilih makanan yang mengenyangkan perut tetapi rendah kalori.

Screenshot_20200304-211344609_1

Jadi, stigma bahwa diet itu gak boleh makan enak dan kelaparan itu gak tepat ya. Kenapa gak boleh kelaparan? Karena selain bisa memicu kita craving sama makanan, juga agar gizi yang dibutuhkan tubuh tetap terpenuhi dan metabolisme tubuh bisa berjalan dengan baik.

Menjauhi makanan tertentu selama program diet bukan berarti makanan tersebut menjadi musuh ya. Daripada menggunakan istilah ‘cheat meal’ dan ‘diet meal’, kepada diri sendiri aku selalu menggunakan istilah ‘entertain meal’ dan ‘daily meal’. Aku juga tidak lagi mengandalkan konsumsi makanan dan minuman tertentu yang dianggap mampu membakar lemak dan menurunkan berat badan, karena ini tidak tepat.

 

Defisit Kalori

Apapun diet yang dijalani, selama jumlah kalori yang dikonsumsi lebih rendah daripada jumlah kalori yang dipergunakan oleh tubuh, maka berat badan akan turun. Kok bisa? Karena tubuh akan menggunakan cadangan lemak tubuh yang diproses menjadi energi untuk menjalankan fungsi tubuh.

Screenshot_20200304-211328796_1

 

Istirahat Yang Cukup dan Olahraga Untuk Meningkatkan Metabolisme

BMR atau Basal Metabolic Rate adalah jumlah energi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk menjalankan fungsi organ-organ tubuh dalam kondisi tubuh istirahat dan temperatur normal.

Screenshot_20200304-211416476_1

Saat menjelaskan hasil tes DNA, dokter menyampaikan bahwa metabolic rate yang rendah bisa jadi karena memang bawaan tubuh/genetik atau kondisi tubuh sedang tidak baik sehingga metabolic rate menurun. Ternyata setelah berat badan turun, rutin olahraga dan banyak minum air putih, metabolic rate-ku menunjukkan kenaikan menjadi range normal.

Lalu bagaimana caranya meningkatkan metabolisme? Istirahat yang cukup dan berolahraga. Pilih olahraga kombinasi cardio dan strength yang disukai dan aman dengan kondisi tubuh masing-masing.

Selain body combat dan jogging, olahraga lain yang aku sukai adalah jalan kaki pagi saat Car Free Day (CFD). Awalnya karena suka aja, bisa sekalian hunting kuliner. Lama-lama jadi rutinitas, karena aku bisa sekalian menikmati sinar matahari pagi, demi vitamin D ceunah.

P_20200216_095909

 

Menikmati Proses

Sejak awal program, dokter dan ahli gizi selalu mengingatkan untuk enjoy dalam menjalankan program dietku. Enjoy dalam arti, jika ada makanan tertentu yang aku lagi craving banget, aku boleh makan kok, hanya porsinya sedikit saja. Begitu pula jika kondisi tubuh sedang tidak fit, aku lebih baik istirahat daripada berolahraga. Don’t be so hard on yourself.

Dan selama menjalani program, aku sengaja tidak mengunggah foto apapun terkait program yang aku jalani, karena ingin fokus dan menikmati prosesnya, tanpa gangguan pertanyaan atau cibiran orang-orang yang masih denial dengan obesitas.

Baik dokter ataupun ahli gizi yang aku temui tiap minggu juga cara komunikasinya menyenangkan. Program diet dengan metode supervisi, pendampingan dan konsultasi ini cocok buatku. Mungkin ini juga yang membuat aku bertahan menjalani prosesnya dan berhasil turun berat badan sebanyak 11kg selama sebelas minggu, visceral fat rating turun dari 10 menjadi 6 dan BMI rating turun dari 30 menjadi 25.

1583338642501

Setelah program selesai, aku masih menjalankan secara mandiri pola makan yang diajarkan, ditambah dengan olahraga rutin. Untuk apa? Membentuk kebiasaan dan pola hidup yang baru, selain karena masih ingin menurunkan berat badan beberapa kg lagi.

Dulu aku suka mengatakan kepada diri sendiri bahwa aku baik-baik saja dengan bentuk tubuh dan berat badan segini. Segala macam quotes motivasi positif aku telan semuanya. Tanpa sadar jadi emotional eating

Fase setelah itu, aku muak sama diri sendiri karena menjadikan tubuhku seperti ‘tong sampah makanan’, semuanya dimakan.

Setelah menjalani program weight loss, selain merasakan efek secara fisik yaitu tubuh jadi lebih segar, enteng dan fit; aku juga terbiasa mindful soal makan. Bukan berarti aku sudah terbebas dari emotional eating, tapi lebih sadar diri, kapan saatnya ‘entertain meal’ dan ‘daily meal’.

Tiap orang punya cara self-love yang berbeda-beda. For me ,it’s keeping my body, mind and soul healthy inside-out.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s